5 Hal Kecil yang Bikin Berat Badan Sulit Turun

Banyak orang berusaha keras demi bisa menurunkan berat badan, namun sayangnya sulit rasanya untuk mencapai target yang diinginkan. Hal ini menyebabkan banyak yang kecewa dan mudah menyerah tanpa meyadari bahwa usaha yang keras dan kesabaranlah yang menjadi kuncinya. 

Ada juga beberapa hal yang ternyata menyebabkan mengapa kita sulit menurunkan berat badan, yang beberapa di antaranya adalah hal-hal kecil yang ternyata bisa berdampak besar. Dilansir Boldksy, ini dia di antaranya:

1. Melewati sarapan/sarapan sangat sedikit 
Salah satu alasan utama mengapa berat badan tak kunjung turun adalah melewati sarapan atau sarapan dalam jumlah terlalu sedikit. Melewati sarapan bisa memperlambat metabolisme tubuh dan membuat ingin ‘balas dendam’ dengan makan lebih banyak pada malam harinya.

2. Terlalu banyak karbohidrat ‘putih’ 
 Mengonsumsi nasi putih, terutama pada malam hari bisa mengagalkan usaha penurunan berat badan. Karbohidrat sering disimpan sebagai lemak dalam tubuh dan harus dihindari sebisa mungkin demi menurunkan berat badan.

3. Tidur tak teratur 
Tidur tidak teratur adalah alasan lain mengapa kamu tak bisa mendapat hasil yang memuaskan saat menurunkan berat badan. Tidur berlebihan atau kurang tidur, keduanya sama-sama bertanggung jawab mengapa berat badan tak kunjung turun.

4. Makan berlebihan setelah olahraga 
 Ini adalah kesalahan terbesar yang sering dilakukan. Makan berlebihan setelah berolahraga tentu akan berujung pada penyesalan karena berat badan tak turun juga. Bahkan hal tersebut bisa memperlambat kemampuan tubuh untuk membakar lemak. Ingatlah untuk mengkonsumsi kalori lebih rendah daripada kalori yang dibakar.

5. Kurangi waktu makan 
Paling tidak makanlah 3 kali sehari dan pastikan kamu tak menguranginya. Penurunan drastis jumlah waktu makan akan memperlambat metabolisme tubuh, dan menyebabkan hasil penurunan berat badan tidak terwujud seperti yang kamu inginkan.

sumber:  https://id.she.yahoo.com/ini-hal-hal-kecil-yang-buat-berat-badan-041500633.html diakses 21 november 2014 jam16.52 WIB

Kombinasi Statin dan Fibrat : Gak Boleh. Why?

Beberapa waktu yang lalu dilakukan general cek up untuk seluruh pegawai di lingkungan tempat kerjaku. Sebagian besar memenuhi undangan untuk cek sesuai jadwal yang diberikan.

Hasil dari cek up tersebut sebagian besar terjadi peningkatan kolesterol, trigliserida, dan asam urat. Meskipun di pemeriksaan lainnya juga ada beberapa yang dinilai tidak normal. Dari sebagian orang yang datang ke saya untuk konsultasi hasil cek up-nya, 100% mengalami peningkatan kolesterol total serta trigliserida. Dalam diagnosis biasanya ditulis hiperkolesterol dan hipertrigliserida/hipertg, namum untuk lebih simpel umumnya ditulis dislipidemia.

Setelah diagnosis ditegakkan, tentunya ingin memberikan penurun kolesterol total (yang ada golongan statin: simvastatin, atorvastatin) serta penurun Tg (yang ada golongan fibrat: gemfibrozil, fenofibrat). Apakah pemberian obat tersebut boleh bersamaan/kombinasi??

Jawab: TIDAK BOLEH

Sebab, hal tersebut dapat menyebabkan rhabdomyolisis, kerusakan di hepar, kerusakan di ginjal, myopathy, hingga kematian.

Lalu bagaimana hal itu bisa terjadi?

Tunggu ulasan ilmiahnya dari sumber-sumber valid di halaman web ini. Stay tune.....

Fakta Bahwa Bayi Lebih Nyambung 'Bicara' Dengan Ibunya daripada Dengan Ayahnya

Meskipun belum bisa diajak bicara, orang tua sering bersenandung dengan kata-kata seperti ning nang ning nung atau mengeluarkan bunyi-bunyian aneh di depan bayinya. Namun pernahkah Anda memperhatikan bila bayi lebih merespons sang ibu ketimbang sang ayah?

Hal ini terungkap lewat sebuah studi yang dilakukan di Amerika. Menurut studi tersebut, para ibu lebih peka atau cenderung merespons suara-suara yang dikeluarkan bayinya ketimbang sang ayah. Tak heran bila kemudian bayi pun lebih banyak merespons suara sang ibu daripada ayahnya.

"Kami tahu bahwa berbicara dan bermain dengan bayi dapat meningkatkan kemampuan kognitif dan bahasanya. Terlepas dari fakta bahwa ayah dan ibu sama-sama berperan dalam membentuk kemampuan berkomunikasi anak, namun bayi lebih merespons ibunya," ungkap peneliti.

Kesimpulan ini diperoleh setelah peneliti mengamati 33 bayi. Si bayi dipasangi alat perekam yang bisa aktif secara otomatis bila mendengar suaranya sebanyak tiga kali. Pertama, sesaat setelah lahir; kedua, ketika si bayi berusia satu bulan dan terakhir, saat usianya menginjak 7 bulan.

Masing-masing dipasang selama 10-16 jam. Dari situ peneliti mendapatkan data tentang jumlah kata yang diucapkan orang dewasa kepada si bayi, bentuk vokalisasi si bayi serta perbincangan antara keduanya.

"Ternyata meskipun bayi belum bisa bicara, mereka melakukan vokalisasi dan seperti memberikan tanggapan ketika diajak ngobrol," kata peneliti, Dr Betty R Vohr, dari departemen anak, Women and Infants Hospital, Providence, Rhode Island seperti dikutip dari Reuters, Jumat (7/11/2014).

Kemudian secara rinci peneliti pun mengungkapkan bahwa wanita dewasa (ibu, bibi, nenek, dll) rata-rata mengeluarkan 1.263 kata per jamnya dan pria dewasa (ayah, paman, kakek, dll) hanya 462 kata per jam ketika berhadapan dengan seorang bayi yang baru lahir.

Uniknya, peneliti juga menemukan para ibu lebih banyak merespons vokalisasi dari bayi perempuan daripada bila ia memiliki bayi laki-laki, terutama saat baru lahir dan ketika usianya sudah satu bulan.

Mereka pun menduga inilah sebabnya perkembangan kemampuan bicara anak perempuan jauh lebih cepat daripada anak laki-laki.

"Sebenarnya ini bukanlah hal baru karena para wanita memang lebih banyak berperan dalam mengasuh anak. Tapi ini menunjukkan bahwa ayah harus memiliki peran yang sama besarnya dengan ibu untuk mengajak bayinya bicara, bermain atau aktivitas lain bila ingin si anak memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik," tegas Vohr.

Sumber artikel: http://health.detik.com/read/2014/11/07/123918/2741868/764/ini-sebabnya-bayi-lebih-nyambung-dengan-sang-ibu-ketimbang-ayahnya?l991101755 diakses 7 november 2014 jam 15.41 WIB
Sumber foto: koleksi pribadi

Apa itu Flavonoid?

Sumber: http://www.solvobiotech.com/images/uploads/image007.jpg, diakses:6 nov 2014, 15:10 WIB


             Flavonoid adalah senyawa yang terdiri dari 15 atom karbon yang umumnya tersebar di dunia tumbuhan. Lebih dari 2000 flavonoid yang berasal dari tumbuhan telah diidentifikasi, namun ada tiga kelompok yang umum dipelajari, yaitu antosianin, flavonol, dan flavon. Antosianin (dari bahasa Yunani anthos , bunga dan kyanos, biru-tua) adalah pigmen berwarna yang umumnya terdapat di bunga berwarna merah, ungu, dan biru. Pigmen ini juga terdapat di berbagai bagian tumbuhan lain misalnya, buah tertentu, batang, daun dan bahkan akar. Flavnoid sering terdapat di sel epidermis. Sebagian besar flavonoid terhimpn di vakuola sel tumbuhan walaupun tempat sintesisnya ada di luar vakuola.

Diambil dari: http://id.wikipedia.org/wiki/Flavonoid, diakses 6 november 2014 jam 15.15 WIB

Jalan Lingkar Universitas Brawaijaya Kembali 2 Arah

Semenjak diberlakukan jalan 1 arah pada novemver 2013 di area lingkar UB, terjadi pengalihan titik kepadatan lalu lintas yang dulunya ada di sekitar jembatan sukarno hatta beralih di jalan - jalan kecil sekitarnya, misalnya area jl. candi panggung, jl. pisang kipas, jl. vinolia, dan area industri keramik dinoyo.

Setahun berlalu, awalnya one way diberlakukan jam 06.00 - 18.00 WIB, diganti diberlakukan 24 jam. Akhirnya warga setempat demo beberapa kali untuk menolak kebijakan pemkot malang. Dan pada akhirnya Pemkot Malang "mengalah" dengan menunda pemberlakukan 2 arah 24 jam selama 4 bulan.

Belum genap 1 bulan setelah diberlakukan kembali aturan 2 arah di lingkar UB, jalan - jalan kecil yang biasanya padat, merambat, dan cenderung macet, saat ini menjadi sangat longgar dan lancar. Namun, aturan 2 arah ini tak sepenuhnya didukung oleh aturan marka jalan yang jelas, rambu - rambu yang dulunya untuk 1 arah tidak dicabut, durasi traffic light yang tidak diatur ulang, sehingga di beberapa titik lingkar UB sering terjadi kepadatan yang cenderung macet.

Entah sampai kapan masalah lalu lintas kota Malang, yang masuk kategori Kota Besar di Indonesia, akan terselesaikan. Dari beberapa media massa yang saya baca, tak ada satupun rencana jangka panjang yang dilontarkan Pemkot Malang terkait masalah lalu lintas, meskipun pernah terucap oleh walikota malang akan membuat Kereta Gantung.

Kalau boleh saya usul ke pemkot Malang, buatlah angkutan masal yang representatif, apapun itulah yang cocok untuk kota malang. Saya yakin banyak orang pinter dalam hal ini. Hanya usul saya, apapun nantinya angkutan masal yang dipilih, tolong berdayakan para sopir angkot yang selama ini sudah ada, jangan menggunakan SDM baru yang nantinya pasti akan ada kontroversi lagi

Pada akhirnya, saya bingung, apakah harus mengucapkan terima kasih ataukah mengecam atas dikembalikannya jalur 2 arah di lingkar UB. Yang penting saat ini, ketika ketemu kepadatan yang dinikmati saja seperti yang dianjurkan Rektor UB.