RUU Keperawatan Sudah Rampung, Kini Perawat Bisa Buka Praktik Sendiri



Sempat menuai protes dari perawat dari seluruh Indonesia dan melalui proses pembahasan yang panjang, rapat kerja antara Kementerian Kesehatan RI dengan Komisi IX DPR RI akhirnya menyepakati RUU Keperawatan untuk disahkan dalam rapat paripurna.

Dengan disepakatinya rancangan undang-undang ini, para tenaga kesehatan di bidang keperawatan akan memiliki payung hukum dalam menjalankan profesinya.

Rapat ini sendiri dilaksanakan di Gedung DPR RI Senayan, Jumat (12/9/2014) dan dihadiri oleh Menteri Kesehatan RI, dr Nafsiah Mboi, SpA, Ketua Komisi IX DPR RI, Ribka Tjiptaning, dan jajarannya serta Tim Perumus RUU.

"Mulai sekarang, perawat boleh membuka praktik sesuai izin. Prosesnya panjang ini, sekitar 3 tahun. Alhamdulillah RUU ini sudah rampung dan akan segera disahkan dalam rapat paripurna," ungkap salah seorang tim perumus RUU, Imam Suroso, kepada detikHealth, Minggu (15/9/2014).

Menurut Imam, lahirnya UU Keperawatan ini sangat penting mengingat selama ini perawat tidak dapat membuka praktik karena tiadanya payung hukum yang melindungi.

“Perawat itu kan sangat dekat ya dengan masyarakat, ujung tombaknya, jadi dengan adanya payung hukum ini mereka bisa lebih percaya diri dalam memberikan pelayanan kesehatan. Tidak harus sedikit-sedikit ke dokter atau rumah sakit,” papar Imam.

Untuk bisa membuka praktik sendiri, Imam menegaskan perawat tetap harus memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) yang dikeluarkan oleh konsil keperawatan dan Surat Izin Praktik Perawat (SIPP) dari pemerintah setempat.

Sementara itu, Nafsiah dalam sambutan tertulisnya menyampaikan rasa syukurnya atas rampungnya rancangan undang-undang ini. Menurutnya, kerjasama ini adalah kemajuan besar setelah lahirnya UU Jaminan Kesehatan Nasional yang disahkan awal 2014 ini. “Kerjasama yang baik antara Komisi IX DPR RI dengan Pemerintah telah melahirkan banyak kemajuan untuk masyarakat,” terangnya.

Diambil dari : http://health.detik.com/read/2014/09/14/154241/2689855/763/ruu-keperawatan-sudah-rampung-kini-perawat-bisa-buka-praktik-sendiri?991104topnews pada 16 september 2014

Kedokteran

Kuliah Farmakologi-Blok THT-Blok11






Kuliah Farmakologi-Nefrouropoetika-Blok17



Kuliah Farmakologi-Toksikologi-Blok24 (gadar)


Kuliah Farmakologi-Toksikologi Klinik-Blok24 (Gadar)


 Kuliah Farmakologi - Tiroid dan Anti Tiroid



Kuliah Farmakologi - Anestetik Lokal




Kuliah Farmakologi - Blok Genetika dan Tumbuh Kembang



Kuliah Farmakologi - Blok THT

Saatnya Indonesia Memiliki BSKLL

Beberapa hari yang lalu tepatnya Minggu, 7 September 2014 terjadi kecelakaan lalu lintas di jembatan lawang arah surabaya. Kabarnya, kecelakaan tersebut terjadi jam 5 pagi tapi jam 5 sore baru selesai di evakuasi. Hasilnya, terjadi kemacetan panjang yang ekornya ada di area kota malang bahkan kota batu.
Sumber : http://www.malang-post.com/kriminal/91805-kontainer-terguling-kemacetan-hingga-tiga-kilometer
Kemacetan yang panjang tersebut tentunya butuh waktu berjam-jam untuk melewati lokasi kecelakaan. Sehingga saya berfikir, sudah saatnya Indonesia memiliki Brigade Siaga Kecelakaan Lalu Lintas (BSKLL).

Tujuannya untuk mempercepat proses evakuasi dan dampak kemacetan tidak terjadi dalam waktu yang lama. Karena dengan lamanya macet, bisa dibayangkan berapa kerugian secara ekonomi. Belum lagi BBM yang terbakar sia-sia di keadaan macet.

===000===











Mie Instan dapat Mempersingkat Hidup

Mie instan

Ternyata mie instan, makanan murah yang digemari banyak anak kost dan para pecinta mie di mana pun berada, dikaitkan dengan serangan jantung dan diabetes. Sebuah studi yang diterbitkan di Journal of Nutrition menemukan bahwa produk-produk mie instan dapat meningkatkan risiko sindrom kardiometabolik  - faktor risiko penyakit kardiovaskular dan stroke yang parah - khususnya bagi perempuan.

“Penelitian ini penting karena banyak orang yang mengonsumsi mie instan tanpa mengetahui kemungkinan risikonya terhadap kesehatan,” ungkap pemimpin peneliti Hyun Joon Shin, MD, dalam siaran pers. Shin, salah seorang pakar kardiologi di Baylor University Medical Center sekaligus mahasiswa doktoral nutrisi epidemologi di Harvard School of Public Health, tidak dapat dihubungi untuk memberikan komentar lebih lanjut.

Untuk penelitian tersebut, peneliti melihat data dari 10.711 orang dewasa berusia antara 19 hingga 64 tahun, yang dikumpulkan melalui perwakilan nasional Korean National Health and Nutrition Examination Survey the 2007-2009. Mereka menemukan bahwa mengonsumsi mie instan  - ramen, lo mein, bihun, Thai, atau lainnya - dua kali atau lebih dalam sepekan berisiko terkena sindrom kardiometabolik, gabungan kelainan yang memengaruhi kardiovaskular, ginjal dan sistem metabolik tubuh.

Meski penyebab spesifik masalah itu belum jelas, Shin mencatat bahwa penyebabnya mungkin berasal dari fakta bahwa kebanyakan mie instan dikemas dalam styrofoam, yang mengandung bisphenol A (BPA), yang dikenal sebagai pengganggu hormon - yang juga menjadi alasan mengapa perempuan lebih terpengaruh dalam penelitian tersebut. Namun produk makanan itu juga mengandung banyak bahan-bahan yang tidak sehat, termasuk MSG dan pengawet kimia butylhydroquinone-tersier (TBHQ), serta kandungan lemak jenuh yang tinggi.

Penelitian tersebut difokuskan pada orang-orang di Korea Selatan, karena negara tersebut, menurut Shin, memiliki jumlah konsumen mie instan tertinggi per kapita di dunia, dan karena dalam beberapa tahun terakhir masalah kesehatan di sana, termasuk penyakit jantung dan obesitas, kian meningkat. Namun penelitian itu tampaknya cukup relevan dengan konsumen di negara-negara lain yang memiliki tingkat penjualan mie instan tertinggi, menurut World Instant Noodles Association, yaitu Tiongkok, Indonesia, Jepang, Vietnam, India, dan Amerika Serikat.

Bukan untuk pertama kalinya mie instan menjadi hujatan publik. Pada 2012, tersebar video yang merekam bagian dalam saluran pencernaan, menunjukkan apa yang terjadi setelah mie ramen instan ditelan - dan itu tampak buruk. Perut harus bekerja keras, berjuang selama beberapa jam untuk mencerna mie yang mengandung TBHQ, yang dianggap sebagai biang keladinya. Beberapa tahun sebelumnya, pejabat kesehatan Malaysia mengeluarkan peringatan untuk tidak memakan mie instan karena mengandung bahan-bahan seperti pengental, penstabil, sodium dan pengawet yang kerap dikaitkan sebagai penyebab penyakit jantung, stroke dan kerusakan ginjal.

Nissin Foods, produsen mie ramen instan pertama di Jepang pada 1958 (dan perusahaan yang membawa Top Ramen ke AS pada 1972), tidak menanggapi permintaan dari Yahoo Health untuk memberikan komentar.

Intinya? Silakan saja konsumsi mie instan, tapi jangan berlebihan, karena dapat membahayakan kesehatan Anda. (kn/ml)

sumber : Oleh Beth Greenfield | Yahoo SHE – Kam, 4 Sep 2014 15:33 WIB, diambil dari https://id.she.yahoo.com/mengapa-mie-instan-dapat-mempersingkat-hidup-anda-083358171.html pada jumat, 5 september 2014 jam 15.50 WIB